Mustamin al-Mandary

The Place Where Heaven and Earth Meet

Tulisanku

I will put all my writings here. So please go to browse. I welcome every comments, even the worst one.

****************************************************************************************************

Tabe’, Tradisi Profetik?

Dalam tradisi masyarakat Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, kita mengenal – bukan hanya kata tetapi juga laku – tabe’ (sayang, pada tingkat tertentu, tradisi ini mulai meluntur). Dalam tradisi ini, orang yang melakukan tabe’ (orang Mandar menyebutnya metabe’), selain harus mengucapkan kata tabe’ itu sendiri, juga harus membungkukkan badan sambil meluruskan tangan kanan ke bawah, bukan tangan kiri. Metabe’ harus dilakukan oleh seseorang jika dia lewat di depan orang lain, khususnya di depan orang tua atau yang lebih tua dan orang yang mesti dihormati (misalnya guru, penghulu, tetua adat termasuk aparat pemerintah dalam konteks sekarang, dan lain-lain). Seorang adik harus metabe’ terhadap kakaknya, termasuk kakak ipar dan sepupunya; juga seseorang yang lebih muda harus metabe’ kepada orang yang lebih tua darinya. Di kampung, jika seorang anak melewati ruang tamu dan di ruangan itu lagi ada tamu, jika si anak tidak membungkuk sebagai isyarat tabe’, orang tua akan mengisyaratkan teguran dengan batuk yang dibuat-buat agar si anak masuk ke dalam rumah dengan metabe’ di depan tamu tersebut. 

Dulu (penulis sudah tidak tahu sekarang), di radio Sawerigading yang beralamat di Wonomulyo Polman, seorang penyiar yang cukup dikenal, Daeng Ca’di, selalu menutup acara yang diasuhnya dengan mengatakan, “tabe’ di”. Dalam pandangan penulis, tradisi penyiar radio Gamasi yang menutup acara atau mengakhiri pembicaraan dengan ucapan “mariki’ di”, maknanya sama dengan ucapan Daeng Ca’di tadi. Akan tetapi, bukan cara permisi ini yang sedang kita diskusikan.

Dalam tradisi metabe’, yang unik adalah “consensus” bahwa kesempurnaan tabe’ harus mensinergikan antara mengucapkan kata tabe’ – walaupun dalam praktiknya kadang hanya diucapkan samar-samar dan nyaris tidak terdengar – dengan membungkukkan badan dan menurunkan tangan kanan. Seseorang tidak akan dianggap metabe’ hanya dengan mengucapkan kata tabe’ tetapi dia berjalan dengan tegak, apalagi dengan membusungkan dada. Namun demikian, kadang membungkukkan badan dan menurunkan tangan dianggap cukup, khususnya jika orang yang dimintai tabe’ cukup jauh posisinya.Tetapi ada pertanyaan yang cukup menggelitik. Kira-kira, darimana tradisi metabe’ itu berasal? Menjawab pertanyaan ini, Alwy Bafagih, seorang habib yang juga keturunan Mandar dan berasal dari Pambusuang yang saat ini menjadi imam mesjid As-Sa’id yang lebih dikenal sebagai mesjid kampung Arab di jalan Lembeh Makassar, mempunyai jawaban yang unik. Menurut beliau, tradisi metabe’ itu ada di dalam Alquran dan merupakan perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad. Untuk memberikan alasannya (di dalam istilah agama disebut dalil), Habib Alwy mengatakan bahwa tradisi tabe’ itu disebutkan di dalam surah Asy-Syuara ayat 215. Ayat itu mengatakan, wakhfidh janaahaka limanit TABA’aka minal mukminiin, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu.” Penulis berusaha mencari penjelasan mengenai referensi itu dan memperjelas frase yang dimaksud dalam kalimat itu. Dengan bantuan buku Konkordansi Alquran, penulis menemukan bahwa kata ITTABA’AKA disebutkan lima kali di dalam Alquran dengan konteks yang berbeda-beda. Akan tetapi, di seluruh tempat tersebut, arti kata ITTABA’AKA adalah mengikuti. Penulis kemudian mencari kata dasar ITTABA’AKA itu dengan bantuan Kamus Arab Indonesia al-Munawwir dan menemukan kata TABI’A yang artinya mengikuti atau menyusul. Dari penelusuran awal asal-usul kata ini, penulis sedikit menolak bahwa tabe’ itu dari Alquran karena secara harfiah, arti dari kata TABI’A (atau menurut Habib Alwy ITTABA’AKA dari kata TABA’A – YATBA’U – TABA’AN), relatif agak berbeda dengan maksud tradisi tabe’ yang hendak kita jelaskan. Lantas apakah asumsi Habib Alwy tidak benar?Dulu nenek moyang kita sering mengutip kata dan menyerapnya dalam bahasa daerah dengan maksud yang kadang cukup berbeda. Di dalam bahasa Mandar, kita mengenal kata kabila’. Sebenarnya, kata kabila’  itu diambil dari kata kiblat dalam bahasa Arab yang artinya arah yang harus dituju dalam shalat. Namun, dalam perkembangannya, kabila’ kemudian dimaknai bukan hanya sebagai kiblat, tetapi juga arah atau tujuan dalam arti umum, jadi bukan hanya arah ka’bah saja. Orang yang baru bangun dari tidur dan belum sadar benar, atau orang yang lari dalam keadaan ketakutan, biasanya tidak akan fokus atau tidak terarah ke arah mana yang akan dituju. Kondisi ini dalam bahasa Mandar disebut salah kabila’. Artinya,  perluasan makna ini sudah menggeser kabila’ dari makna aslinya, padahal salah kabila’ sendiri bisa diganti oleh kata lain yang lebih khusus, misalnya salah pa’dutang yang artinya salah arah saat berlari. Dengan analogi ini, mungkin leluhur kita dulu mau mengambil tradisi TABA’A itu untuk menghormati seseorang, lantas mereka menggunakan TABA’A itu untuk memaksudkan “menghormati seseorang dengan cara membungkukkan badan di hadapan orang tersebut.” Dalam perjalanannya, agar bisa disesuaikan dengan pengucapan dalam bahasa daerah, TABA’A atau TABI’A akhirnya menjadi TABE’ saja.Mungkin penjelasan ini masih bisa menolak asal muasal tradisi tabe’. Akan tetapi, habib Alwy masih memiliki penjelasan. Dalam pandangan beliau, mungkin saja leluhur kita memang sudah tahu arti TABA’A itu adalah mengikuti atau menyusul (seseorang), jadi mereka bukan salah menyerap kata TABA’A yang artinya mengikuti untuk memaksudkan TABE’ yang artinya merendahkan atau membungkukkan badan di depan orang lain. Dengan tetap merujuk kepada ayat 215 surah Asy-Syuara di atas, tradisi metabe’ ini justru mempertegas bahwa leluhur kita menginginkan agar kita me-TABA’A atau mengikuti tata cara orang suci (dalam hal ini Nabi Muhammad) dalam menghormati orang lain. Bagaimana cara orang suci menghormati orang lain? Alquran mengajarkan bahwa caranya adalah dengan merendahkan (atau membungkukkan) badan. Artinya, leluhur orang Sulawesi itu menggunakan cara Alquran, tepatnya perintah Tuhan kepada Nabi Muhammad jika ingin menunjukkan penghormatan kepada seseorang, khususnya di hadapan orang itu.Tentu kita tidak sedang berbicara dalam ranah tafsir Alquran. Habib Alwypun, yang menjelaskan kemungkinan asal muasal tabe’ ini di depan hadirin dalam sebuah majelis pengajian yang dihadiri oleh orang Bugis, Makassar dan Mandar di Kampung Baru Balikpapan beberapa waktu yang lalu, juga menegaskan bahwa ini bukan pembicaraan tafsir. Pembicaraan ini juga bukan pembahasan bahasa (daerah) dan asal-usul kata. Penjelasan ini lebih merupakan upaya untuk menggali tradisi masyarakat Sulawesi Barat dan Selatan. Tradisi tabe’ memang adalah salah satu kekayaan etika dalam tradisi masyarakat Sulawesi Barat dan Selatan. Metabe’ adalah simbol keagungan dan pengagungan akhlak. Di dalamnya diajarkan cara penghormatan kepada seseorang yang harus dihormati, bahkan walaupun orang itu belum dikenal. Di Sulawesi Barat dan Selatan, depan (olo) adalah wilayah yang sangat sensitif dan merupakan simbol kehormatan, karena itulah kita harus metabe’ jika melewati olo orang lain. Dulu, banyak orang yang saling bunuh hanya karena olo­-nya dilewati tanpa metabe’, menghormat, atau minta permisi. Terlepas darimana datangnya kata dan laku tabe’ itu, penghormatan dengan mendahulukan akhlak adalah tradisi yang harus diabadikan. Maka hormatilah orang yang harusnya dihormati dengan metabe’ kepadanya.

4 Responses to “Tulisanku”

  1. amril said

    Mus,

    Apa kabar ? Wah..blognya bagus dan memikat. Tetap berkarya ya?

  2. Lucas Nasution said

    I am speechless

  3. firman rusliawan said

    top abiss… saya lahir dari orangtua yang berdarah mandar (pamboang).. namun sayangnya saya lahir dan besar di makassar yang multikultur sehingga saya hanya tahu secuil mengenai budaya mandar.. info semacam ini sangat membantu untuk memahami budaya suku saya sendiri.. thanx a lot..

  4. saya tinggal di kalimantan selatan,saya mau tanya adakah keturunan sayyid dipamboang majene,kerna kake saya berasal dari pamboang”kalo menurut cerita sayyid zakariah meninggal kan keturunan di pemboang,apakah cerita ini benar ada nya tolong kasih info nya ke saya,,087817004243,,yaya_aldy@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.